Multazam adalah salah satu tempat paling mustajab di dunia, area kecil di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Namun meskipun bentuknya sederhana, jutaan jamaah dari seluruh dunia merasakan sesuatu yang berbeda ketika berdiri dan berdoa di sana: ketenangan, kelegaan, dan kedekatan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
1. Tempat yang Diistimewakan Rasulullah SAW
Multazam disebut sebagai salah satu tempat paling dikabulkannya doa. Banyak riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat berhenti di Multazam untuk berdoa dan menempelkan dada serta tangan mereka pada dinding Ka’bah.
2. Momen Pelarian dari Dunia yang Melelahkan
Bagi banyak orang, hidup penuh dengan tekanan:
- pekerjaan,
- masalah keluarga,
- tuntutan finansial,
- kegelisahan batin.
Saat berada di Multazam, semua itu seperti hilang sejenak.Keramaian Masjidil Haram tidak terasa mengganggujustru menghadirkan rasa kecil di hadapan keagungan Allah, membuat hati merasa ringan dan pasrah sepenuhnya.Ruang Intim Antara Hamba dan Tuhannya
Meski berada di tempat paling ramai di dunia, Multazam memberi nuansa keintiman spiritual:
- kepala disandarkan ke dinding Ka’bah,
- air mata jatuh tanpa disadari,
- bisikan doa terasa sangat personal.
Inilah titik di mana banyak jamaah merasa didengar, bukan hanya oleh telinga, tapi oleh Yang Maha Mendengar.
4. Energi Emosional dari Jutaan Doa
Multazam setiap hari dikelilingi oleh:
- tangisan,
- harapan,
- permohonan,
- dan syukur jutaan manusia.
5. Simbol Harapan Baru dan Pembersihan Diri
Bagi yang datang dengan beban hidup, Multazam adalah tempat untuk:
- melepaskan masa lalu,
- memohon kekuatan baru,
- mensucikan hati,
- memulai lembaran hidup yang lebih baik.
Ketika seseorang berdoa di Multazam, ada keyakinan kuat:
“Doa di sini tidak pulang dengan tangan kosong.”
Keyakinan seperti itu sendiri sudah menghadirkan kedamaian yang mendalam.
6. Momen Menyadari Betapa Dekatnya Rahmat Allah
Banyak orang tidak bisa menjelaskan mengapa Multazam begitu menyentuh hati. Namun bagi yang pernah merasakannya, jawabannya sederhana:
“Karena di Multazam, kita merasa sangat dekat dengan Allah.”
Dekat dalam arti:
- dekat secara fisik pada rumah-Nya,
- dekat secara emosional melalui doa,
- dekat secara spiritual dalam kepasrahan.
Kedamaian di Multazam bukan hanya karena keistimewaan tempat itu secara syar’i, tetapi juga karena momen batin yang tercipta: ketulusan, kepasrahan, dan harapan yang menyatu dalam doa.

